Logo Desa Gombong

Riwayat Lisan Desa Gombong

Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya

πŸ›οΈ Asal Usul Penduduk

Menurut cerita dan beberapa catatan sejarah Desa, penghuni Desa Gombong berasal dari keturunan Mataram (Jawa Tengah). Mereka adalah Suku Jawa, sebagaimana kita ketahui dalam buku sejarah Kerajaan Mataram mengalami masa jayanya ketika pemerintahan Sultan Agung (1615-1645). Pengaruh Islam pada waktu itu sudah tertanam dengan baik di kalangan penduduk.

Kira-kira pada abad ke-18, seorang Bupati Mataram dengan beberapa orang pengiringnya pergi meloloskan diri keluar kerajaan, karena kekuasaan Mataram makin terdesak akibat penjajahan Belanda. Beliau pergi dengan tujuan mencari tempat yang lebih aman tanpa sepengetahuan keluarga dan pembesar-pembesar setempat.

πŸ—ΊοΈ Perjalanan ke Cimenga

Rombongan sampai di Cimenga (daerah Kuningan sekarang), yang pada waktu itu diperintah oleh seorang Bupati terkenal dengan nama istrinya yaitu Embah Dalem Cimenga atau sebutan Embah Buntit.

Sesampainya di Cimenga, rombongan Bupati Mataram itu menyamar sebagai orang biasa dengan membawa berbagai macam kesenian dari Jawa Tengah. Berita ramainya datang kesenian tersebut sampai ke seluruh pelosok dan akhirnya diketahui oleh Embah Dalem, kemudian dipanggil untuk main di kedaleman.

Pada waktu pertunjukan kesenian tersebut, seorang putri kedaleman turut menonton dan tertarik kepada Bupati Mataram, lalu akhirnya menikah. Dari pernikahan ini memperoleh enam orang anak: lima putra dan seorang putri.

πŸ‘€ Embah Jidun - Nenek Moyang Gombong

Kelima putra tersebut (kecuali sang putri) turut membantu perang Pangeran Sumedang melawan Cirebon. Setelah perang selesai dan Sumedang menang, kelima putra tersebut tidak mau kembali ke Cimenga dan terus mengembara ke Daerah Priangan.

Salah seorang dari kelima putra tersebut bernama Embah Jidun (nama panggilan dari anak cucunya, nama sebenarnya adalah Suradiwangsa) sampailah ke Desa Gombong. Beliau merupakan nenek moyang penduduk Gombong.

Salah seorang putri Embah Jidun bernama Astrayuda pergi ke sebelah barat Desa Gombong dengan mendirikan Kampung Pocol. Embah Jidun meninggal di kampung tersebut dan dimakamkan di sebuah tempat keramat bernama Cikujang di Kampung Nagaraherang Desa Sukahening sebelah timur laut Desa Gombong.

πŸŽ‹ Asal Nama "Gombong"

Perkataan "Gombong" menurut sejarah Desa setempat, berasal dari kondisi wilayah yang pada awalnya merupakan hutan bambu yang sangat luas dan tumbuh sangat lebat di daerah tersebut.s Kata Gombong artinya pohon bambu yang besar, begitu pula menurut pengakuan orang-orang Jawa. Sebelum datangnya Embah Jidun, Desa Gombong merupakan sebuah tegalan yang ditumbuhi rumpun-rumpun bambu dan diselingi beberapa selokan kecil.

πŸ“œ Perjalanan Kepemimpinan Desa Gombong

Masa Huru Hara (~1850)

Sejak abad ke-19 (sekitar tahun 1850), masyarakat Desa mengalami kerusakan akhlak yang mengakibatkan huru hara. Keributan-keributan di bidang pencurian, perampokan, pembunuhan, dan penganiayaan terjadi di antara penduduk.

β€’

Astrapraja (Pak Kuwu)

Hampir kalah terhadap penjahat

β€’

Adiwana (Pak Manten)

Melanjutkan usaha keamanan, namun belum berhasil

β€’

Raden Karta

Memegang jabatan hanya 1 hari karena diprotes masyarakat

1882 - 1889

Haji Abdul Rahim

Memegang tampuk pimpinan selama 7 tahun. Kejahatan masih terus merajalela walaupun sudah diadakan berbagai usaha. Hampir setiap hari Desa Gombong digeledah oleh Polisi dari kecamatan demi ketertiban.

1889 - 1919

Haji Dahlan

Mempunyai sifat sabar dan penuh kasih sayang terhadap masyarakat, bahkan terhadap penjahat. Beliau menjadikan penjahat sebagai pembantunya, termasuk Astradiwangsa (kepala penjahat dari empat bersaudara).

Beliau sangat percaya terhadap keramat-keramat, terutama Embah Agung Tapa. Menjadi orang yang paling disegani sehingga penjahat-penjahat tunduk kepadanya. Memiliki putra tunggal bernama Tanuwijaya yang dipesantrenkan di Cirebon, Sumedang, dan Banten.

1919 - 1926

Tanuwijaya

Calon tunggal yang terpilih setelah ayahnya berhenti. Melanjutkan usaha menumpas kejahatan dengan ilmu tinggi dan kekuatan jiwa yang dimiliki. Kejahatan dapat ditumpas dan semakin menurun, akhirnya dapat dikikis habis. Meninggal di usia 39 tahun setelah memimpin selama 9 tahun.

1926 - 1965⭐ MASA JAYA

Iyon Tanuwijaya

Putra sulung Tanuwijaya. Memiliki sifat hampir sama seperti ayahnya. Desa Gombong mengalami masa jayanya dengan banyak kemajuan yang dicapai.

Masyarakat kembali ke dalam keadaan tentram dan damai. Memegang tampuk pimpinan selama 40 tahun dan merupakan jabatan paling lama. Berhenti pada 20 April 1965 karena lanjut usia.

1966 - 1977

Yusup Tanuwijaya

Adik Iyon Tanuwijaya, sebelumnya menjabat sebagai juru tulis. Pemilihan dilakukan pada 19 Mei 1966 dengan calon tunggal. Memegang jabatan selama 12 tahun.

1977 - 1980PEMEKARAN

Idi Sumawijaya (Periode 1)

Menjabat selama 3 tahun. Pada masa kepemimpinannya, Desa Gombong dimekarkan menjadi 2 Desa:

Desa Gombong

Kepala Desa: Idi Sumawijaya

5 Dusun: Gombong, Sukamandi, Bugel, Karamasantana, Pocol (sekarang 6 dengan Pananyung)

Desa Kertamukti

Kepala Desa: Ahmad

4 Dusun: Cibuyut, Mulyarasa, Jamilega, Sukamaju (sekarang 5 Dusun)

1978 - 1984

Idi Sumawijaya (Periode 2)

Terpilih kembali melalui pemilihan dengan 4 calon. Beliau pernah menjabat sebelumnya sebagai juru tulis.

1984 - 1993

Oko Sukmaja

Memegang kelungguhan selama 9 tahun.

1993 - 2001

Warka Dipura

Berasal dari Kampung Pocol. Memegang kelungguhan selama 8 tahun.

2001 - 2006

Jamali

Berasal dari Kampung Pananyung. Memegang pemerintahan selama 5 tahun.

2008 - 2008 & 2014 - 2014PEJABAT SEMENTARA

Ii Ismail, SIP & AA Rahmat, S.Ag

Menjabat sebagai pejabat sementara pada tahun 2008.

2007 - 2027MASA KINI

Tantan Taofik Sutanto, ST

Memimpin Desa Gombong dalam era modern dengan fokus pada pembangunan infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

πŸ“– Warisan Sejarah

Perjalanan panjang Desa Gombong dari masa huru hara hingga menjadi desa yang tentram dan damai merupakan bukti kegigihan para pemimpin dan masyarakatnya. Dari keturunan Mataram hingga kini, nilai-nilai gotong royong dan keislaman tetap terjaga sebagai identitas Desa Gombong.